Pamekasan

Disdikbud Pamekasan Sosialisasikan Pentingnya Pendidikan Karakter hingga Uji Kompetesi Al-Quran

Pamekasan, (Madura Today) – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur terus menggalakkan sosialisasi penanaman karakter kepada satuan pendidikan di bawah naungannya.

Kepala Disdikbud Pamekasan, Akhmad Basri Yulianto menyampaikan, era ini banyak sekali faktor yang dapat menyebabkan terjadinya dekadensi moral hingga pergaulan bebas. Termasuk gadget dan media sosial.

“Kami sudah memerintahkan kabid (kepala bidang) mengaktifkan kembali sosialisasi di tingkat SMP. Karena ini yang rawan, mereka sudah memasuki tahap puber, kemarin sudah kami laksanakan sosialisasi di SMPN 1 Larangan,” katanya, Selasa (28/4/2026).

Dikatakan, pihaknya akan bekerja sama dengan unit PPA Polres Pamekasan untuk mengantisipasi terjadinya hal yang tidak diinginkan di dunia pendidikan. Supaya siswa dan warga sekolah secara umum dapat memahami bahaya dan resiko yang akan dialami.

“Kami juga melakukan uji kompetensi baca alquran untuk anak anak SD sesuai dengan perda tentang wajib baca alquran, itu tidak hanya sebuah wacana dan regulasi, tetapi kami sudah memulai. Sehingga anak anak itu tidak hanya pintar ilmu umum tapi basis agamanya juga kuat,” tandasnya.

Mantan Kepala Disperindag Pamekasan ini berkeinginan kuat membumikan nilai nilai alquran di daerahnya melalui tambahan jam pelajaran khusus alquran dan bahasa daerah.

“Apalagi pak bupati kapan hari menyampaikan bagaimana Pamekasan ini tidak hanya kota pendidikan dan kota batik, tetapi juga kota alquran,” ungkapnya.

Dia menghimbau orang tua berpartisipasi aktif memantau perkembangan dan pergaulan anaknya di rumah. Sebab, lingkungan keluarga menjadi penentu terhadap tumbuh kembangnya anak.

“Tanggung jawab untuk anak anak itu bukan ansih tugas pemerintah kabupaten, dalam hal ini dinas pendidikan. Karena pola asuh anak itu hanya sebagian kecil mereka di sekolah, maksimal enam jam. Kalau di sekolah sudah di bawah pengawasan para guru,” katanya.

Dia menjelaskan, sebagian besar pola asuh anak ada di lingkungan keluarga dengan durasi waktu hampir 16 jam. Oleh karena itu, orang tua wajib meningkatkan pengawasan terhadap anak anaknya. Karena sekolah tidak mungkin mengawasi mereka hingga ke rumahnya masing-masing.

“Perlu orang tua memahami bagaimana dia berteman dengan teman temannya di lingkungan sekolahnya dan di lingkungan masyarakat. Apalagi di era kemajuan, berkembangnya teknologi ini,” jelasnya.

Dia menyampaikan, era ini anak anak dengan mudah berselancar di media sosial dengan bebas tanpa ruang dan waktu, tentu dengan menu sesuka hati. Hal itu menjadi salah satu faktor penyebab sulitnya pengawasan terhadap anak.

“Tidak bisa kita pungkiri ada hal yang positif, tapi perlu diwaspadai juga hal hal yang negatif. Bagaimana kemungkinan mereka larut game, judi online, terpapar paham radikalisme, atau konten konten pornografi. Itu kita tidak bisa menyangkal, makanya melalui orang tua bagaimana anak bijak bermedsos,” pungkasnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button