Antrean Solar di Sumenep Diprediksi Berlanjut hingga Akhir Tahun
Sumenep (Madura Today) – Antrean panjang pembelian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Biosolar di Sumenep, Jawa Timur, diprediksi masih akan terjadi hingga akhir 2026.
Kondisi ini dipicu pengurangan kuota BBM bersubsidi yang diterima sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Direktur Utama PT Wira Usaha Sumekar (WUS) Sumenep, Zainul Ubbadi, mengatakan, kondisi ini disebabkan adanya pengurangan kuota berkaitan dengan kenaikan harga minyak dunia akibat perang.
“Ini bukan karena kelalaian pemerintah, melainkan disebabkan naiknya harga minyak dunia akibat perang,” katanya dalam dialog di RRI Sumenep, Selasa (27/10/2026).
Dia menjelaskan, anggaran subsidi dalam APBN 2026 ditetapkan berdasarkan asumsi harga minyak dunia sebelum mengalami kenaikan.
Akibatnya, dengan anggaran yang tersedia, jumlah BBM bersubsidi yang dapat dibeli pemerintah menjadi lebih sedikit. “Kami sebagai pengelola sama dengan SPBU yang lain, hanya menerima sesuai dengan jatah yang diberikan,” ujarnya.
Ubed menyebutkan, kuota Biosolar untuk SPBU yang dikelola PT WUS juga berkurang. Sebelumnya, pasokan mencapai 8.000 liter per hari selama lima hari dan 16.000 liter per hari selama dua hari. Kini, total kuota yang diterima berkurang 16.000 liter.
“Untuk distribusinya lancar. Di SPBU kami dikurangi sebanyak 16.000 liter,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi antrean dan menjaga pemerataan distribusi, pihaknya membatasi pembelian Biosolar berdasarkan jenis kendaraan. Mobil pikap dan minibus dibatasi maksimal Rp200 ribu, truk Rp300 ribu, sedangkan bus besar Rp500 ribu hingga Rp700 ribu.
Meski pasokan BBM bersubsidi terbatas, Ubed memastikan ketersediaan BBM nonsubsidi masih melimpah. Dia juga menyebutkan stok biasanya lebih banyak pada awal bulan.
“Kami minta maaf kepada masyarakat, mohon bersabar hingga akhir tahun,” tandasnya.
Hayat
Hayat adalah wartawan Lulusan Terbaik Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Jenjang Muda Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) Jakarta Tahun 2026.



