Mengenang Pandemi di Antara Adagium Kepatuhan Manusia Madura

0
Syarifah Isnaini

Penulis: Syarifah Isnaini*

Madura Today – Merujuk pada bilangan tahun, terhitung dua pergantian tarikh telah dilalui masyarakat dunia dengan mengakrabi diri pada pandemi Corona Virus Disease 2019 atau biasa dikenal dengan Covid-19.

Beragam reaksi ditunjukkan segenap lapisan masyarakat terhadap kondisi tersebut baik di perkotaan maupun pedesaan.

Hampir segenap kelompok warga memiliki pilihan sikap tersendiri menghadapi pandemi Covid-19 yang ditengarai menjatuhkan banyak korban, tidak terkecuali pada manusia Madura.

Adapun media massa sebagai satu dari sekian wadah pers dan instrumen komunikasi dipenuhi kabar kepanikan dan kecemasan akan tibanya pagebluk yang begitu kuat menyedot perhatian dunia secara tiba-tiba.

Pada awal kemunculan pandemi tepatnya pada bulan Juni 2020, pilihan sikap manusia Madura terhadap pandemi diberitakan oleh Kompas TV. Adalah warga desa kecamatan Waru yang kedapatan menghadang mobil petugas ambulans yang mengangkut jenazah pasien Covid-19.

Motif utama kejadian ini bermula dari dugaan bahwa beberapa pasien yang meninggal di Rumah Sakit (RS) tidak benar-benar dipicu oleh Covid-19 sebagaimana divonis oleh petugas kesehatan.

Sesuai preskripsi nasional, setiap jenazah baik yang telah terbukti positif atau diduga terjangkit Covid-19 harus dimakamkan sesuai protokol kesehatan yang jauh berbeda dengan tata cara pemakaman umum.

Selazimnya manusia Madura yang identik dengan celuritnya, puluhan warga yang terlibat dalam pengambilalihan jenazah Covid-19 pada momen di Waru tersebut dilengkapi dengan senjata tajam (sajam).

Penyertaan sajam di momen itu selaras dengan pernyataan Sukron Ma’mun, seorang pengamat kebudayaan yang menyatakan bahwa terkadang sajam sering dicitrakan serupa ikon keberanian dan obstruksi akan sikap kesewenang-wenangan.

Menghadapi tindakan penolakan warga sekaligus amunisi mereka, tak pelak petugas pemulasaran jenazah beserta sopir ambulance yang membawa jenazah Covid-19 di Waru beberapa waktu lalu mengambil sikap mundur teratur.

Eksistensi Adagium Kepatuhan Manusia Madura

Membaca kasus penolakan warga Waru akan fenomena Covid-19 dua tahun lalu diperlukan sedikit teori sehingga apa yang terjadi pada saat itu sedikitnya dapat terurai dan terbaca.

Mengutip teori tindakan beralasan yang dicetuskan oleh Icek Ajzen tiga puluh tahun lalu dalam The Theory of Planned Behaviour, maka tidak ada satupun perilaku manusia di dunia yang hampa motivasi.

Salah satu cabang teori Ajzen menguraikan bahwa perilaku manusia senantiasa berpatokan kepada norma-norma yang melingkupi kehidupan mereka.

Dalam hal ini, tentu saja termasuk masyarakat Waru yang merebut paksa pasien Covid-19 dari pihak medis selaku kepanjangan tangan dari aturan rezim Indonesia.

Adalah bhuppa’-bhappu’-ghuru-rato, adagium yang barangkali dapat menjelaskan preferensi sikap warga kecamatan Waru sehubungan dengan adanya jenazah Covid-19.

Bhuppa’-bhappu’-ghuru-rato yang mana dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai bapak-ibu-guru-ratu merupakan sebuah hierarki tokoh yang menjelaskan dari sosok mana manusia Madura harus mentahbiskan kepatuhan mereka di tingkat horizontal.

Pada tataran vertikal, tidak perlu diragukan bahwa Pangeran (Tuhan) menempati urutan tertinggi atas kepemilikan rasa patuh orang Madura.

Adagium bhuppa’-bhappu’-ghuru-rato muncul dari perjalanan masyarakat Madura yang begitu panjang sehingga kemudian membentuk mereka sebagai pribadi dengan kepatuhan pada sosok-sosok tertentu.

Sebagaiman diteliti oleh Moh. Hefni, dosen jurusan Syari’ah STAIN Pamekasan beberapa waktu lalu, ia mengistilahkan bahwa bhuppa’-bhappu’-ghuru-rato berfungsi sebagai structuring structure dan structured structure.

Structuring structure menunjukkan realitas di mana bhuppa’-bhappu’-ghuru-rato bertransformasi sebagai struktur yang mengorganisasikan perilaku masyarakat Madura.

Adapun structured structure dipahami sebagai kondisi yang mana bhuppa’-bhappu’-ghuru-rato hadir dengan distrukturasi atau disusun oleh masyarakat Madura sendiri.

Apabila dikaitkan dengan bhuppa’-bhappu’-ghuru-rato, reaksi masyarakat Waru terhadap jenazah yang mencerminkan penolakan mereka terhadap protokol korban Covid-19 barangkali akan terjelaskan.

Para warga Waru sebagai manusia Madura terbiasa menempatkan pemerintah pada hierarki kepatuhan terakhir yang pada mulanya diistilahkan sebagai rato.

Penyebutan rato sebagai manifestasi dari penguasa erat kaitannya dengan sejarah Madura yang awalnya diperintah oleh kerajaan sebagaimana halnya daerah-daerah lain di Nusantara.

Posisi hierarki rato kemudian tidak banyak memberikan pengaruh dalam aspek sikap kemasyarakatan manusia Madura sebab mereka masih memiliki tiga figur yang terlebih dahulu harus mereka patuhi.

Dua figur bhuppa’-bhappu ditempatkan pada awal struktur adagium sebagai perwujudan dari keutamaan sosok bapak dan ibu dalam tatanan sosial manusia Madura.

Sistem alur keturunan patrilineal yang mengatur ayah sebagai sosok utama sebelum ibu juga sangat kental pada hierarki kepatuhan bhuppa’-bhappu’-ghuru-rato. Relasi gender antara ayah dan ibu yang barangkali juga diilhami oleh faktor religius yang populer sebagaimana diperintah dogma agama. Nalar bahwa ibu berada di bawah bimbingan sosok bapak turut mengilhami terbentuknya konsep tersebut.

Urgensi Figur Ghuru

Berkaca dari kasus serangan manusia Madura terhadap petugas kesehatan terkait dengan isu Covid-19, dapat dipahami bahwa urgensi peran Ghuru semakin nyata. Posisi Ghuru berada pada peringkat ketiga dalam hierarki kepatuhan orang Madura setelah bapak dan ibu.

Ghuru yang dalam posisi masyarakat Madura diwakili oleh kyai merupakan figur yang begitu dihormati dan didengar petuahnya selaku konsekuensi jalin-kelindam Islam dengan penduduk tanah garam.

Orang Madura dengan keteguhan norma agama dan adat istiadat  telah mengkonstruksi ghuru sebagai sosok panutan baik ukhrawi ataupun duniawi. Hal ini berlangsung sedari dulu di mana kyai menjadi rujukan utama dalam pelbagai permasalahan masyarakat mulai hal remeh temeh hingga yang paling serius.

Totok Rochana dalam tulisannya Orang Madura: Suatu Tinjauan Antropologis menguraikan bahwa kondisi ini disebabkan historisitas posisi rato dan ghuru di Madura.

Posisi tempat pemerintah pada zaman dahulu terpisah jauh dari masyarakat di mana kondisi ini bersebrangan dengan kyai yang tinggal dalam satu lingkungan sehingga memudahkan masyarakat untuk mengkonsultasikan permasalahan mereka. Mendasarkan pada kondisi ekologi ini pulalah yang kemudian membentuk kepatuhan manusia Madura pada sosok-sosok yang jauh panggang dari api secara nasional.

Berangkat dari potensi yang dimiliki kyai dalam posisinya sebagai pemilik tatanan hierarki kepatuhan warga Madura, maka tidak berlebihan jika kemudian disimpulkan bahwa kyai merupakan pemegang sentral keeratan dan kekompakan lelaku masyarakat baik dalam bidang sosial lebih-lebih keagamaan.

Notabene masyarakat Madura akan lebih mendengarkan petuah para Kyai daripada pemerintah kendati dalam perundang-perundangan secara jelas hierarki menyatakan bahwa kedaulatan negara berada di atas segala elemen.

Merujuk pada kapasitas kyai tersebut, tampaknya tidak muluk-muluk apabila diharapkan eksistensi mereka dapat menanggulangi tindakan-tindakan anarkis manusia Madura ke depannya.

* Penulis merupakan mahasiswi Program Pascasarjana Interdisciplinary Islamic Studies di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Penulis dapat disapa di sosial media @syarifahitsnaini (instagram) dan Super-Syarifah (Twitter).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here